Archives

All posts for the month March, 2018

Coworking : Werkspace – Pluit Review (1)

Published March 30, 2018 by fereshia

Hello!

Nama saya Ariz. Dan ini adalah blog post “numpang lewat”. Hehehe

Kali ini lagi kepingin cerita tentang tempat kerja saya yang baru: Werkspace!

Btw, sebelumnya disclosure dulu nih.

Review ini adalah murni opini pribadi, sebagai seorang konsumen yang puas. Ini bukan sponsored post. Saya tidak dibayar, dan ketika tulisan ini dibuat/dipublikasikan, pihak Werkspace tidak pernah menjanjikan kompensasi dalam bentuk apa pun.

Oke. Demikianlah disclosure-nya. Sekarang kita lanjut ya…

Dari Luar Rumah, Ke Dalam Rumah, Lalu Keluar Lagi…

Saya termasuk orang yang beruntung.

Karena berkat kemajuan teknologi, saya dapat menikmati “fasilitas hidup” yang disebut Bekerja dari Rumah. Sebuah fasilitas yang mungkin membuat banyak orang iri.

Tapi sayangnya (dan ini yang nggak banyak orang tahu), kerja dari rumah juga nggak sepenuhnya enak. Ya memang banyak enaknya sih, tapi ya nggak enaknya juga ada.

Mulai dari terlalu besarnya godaan untuk bersantai, tidak adanya batasan antara jam kerja dan waktu istirahat, “distraksi” dari orang-orang di rumah, sampai pada kejenuhan dan minimnya stimulus kreatif.

Hal-hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk bekerja di luar rumah. Hehehe.

Lucu ya… Dulu waktu masih ngantor, kepingin kerja dari rumah. Tapi sekarang begitu dapat bekerja dari rumah, malah kepingin keluar rumah lagi. xD

Anyway, long story short… Akhirnya diputuskan lah untuk mencoba bekerja di Coffee Shop. Dan petualangan pun dimulai.

Gimana pengalaman kerja dari Coffee Shop?

Well, satu hal yang harus selalu kita ingat. Coffee Shop itu jualan kopi (dan aneka kudapan pelengkapnya). Bukan jualan space buat kita kerja.

Meskipun semua Coffee Shop menyediakan tempat duduk (yang nggak selalu nyaman buat kerja berlama-lama), koneksi Internet gratis (yang nggak selalu dapat diandalkan) dan lubang colokan charger (yang nggak selalu available juga). Tapi jualan utama mereka tetap adalah kopi.

Implikasinya apa?

Setiap beberapa jam sekali, akan ada yang “patroli”, nyamperin kita dan bertanya…

“Kakak… Mungkin mau tambah lagi kopinya?”

“Kakak… Mau coba menu baru kami? Cookies rasa bla… bla… bla…”

“Kakak… Mungkin ada yang mau dipesan lagi? Buat second service…”

Apa lagi kalo kebetulan Coffee Shop-nya lagi rame. Wah, tambah sering deh kita ditawari ini itu.

Again, I get it. They are in business!

Jadi wajar juga kalau mereka kayak gitu. Sekali lagi, ya karena memang jualannya itu. Bukan jualan tempat buat kita kerja.

(Btw, do you know that caffeine is a diuretic substance? Yes, it makes you pee more often. Leaving your belonging unattended, in a busy coffee shop, while going to toilet, is not advisable).

So, meskipun Coffee Shop cukup oke untuk kita kerja satu dua jam. Atau buat kita meeting dan hangout sesekali. Tapi tempat kayak gitu sangat nggak ideal untuk pekerjaan yang serius dan berlama-lama. At least not for me!

Kalau begitu, kita harus kerja dimana dong?

Di rumah nggak oke. Di Coffee Shop juga nggak ideal. Masa iya harus sewa kantor?

Pada saat itulah, saya melirik satu solusi…

Introducing: Coworking Space!

Buat saya, Coworking Space ini kebalikan dari Coffee Shop.

Coffee Shop: Kopinya bayar. Tempat duduknya gratis!

Coworking Space: Tempat duduknya bayar. Kopinya gratis!

Selebihnya gimana? Mari kita cek satu per satu…

Interior yang unik dan dekorasi yang inspiratif? Check!

Internet wifi kencang, stabil (dan gratis)? Check!

Colokan charger buat HP dan laptop? Check!

Dan ada satu lagi nilai plus Coworking Space dibandingkan Coffee Shop. Dan ini adalah poin yang tidak kalah penting, yaitu: Semua orang datang ke Coworking Space buat KERJA!

Orang ke Coworking Space bukan buat sekedar hangout. Bukan buat ketawa-ketiwi ngakak nggak karuan. Juga bukan buat nge-gosip, yang sangking serunya sampe ceritanya bisa kedengaran dari radius 10 meter!

Sekarang, pertanyaan berikutnya adalah: Mau pilih Coworking Space yang mana?

Setelah menjajal beberapa Coworking Space di sekitaran Jakarta Barat dan Jakarta Utara (yang ternyata lumayan banyak juga), akhirnya pilihan saya jatuh ke… Werkspace!

Sekilas tentang Werkspace Pluit

Werkspace adalah penyedia tempat Coworking Space, yang (ketika tulisan ini dibuat) sedang dalam tahap membangun lokasi mereka yang kedua dan ketiga.

Lokasi utama mereka (HQ) saat ini, berada di Jl. Pluit Indah Raya No. 168 B-G, Jakarta Utara 14450.

Ada yang tahu Mall Pluit Village (PV)? Nah Werkspace ini jaraknya 10 meter dari pintu gerbang PV. Deket banget!

Kenapa (Akhirnya) Pilih Werkspace?

Ada beberapa alasan yang membuat saya memilih Werkspace…

Reason #1 : Location

Sebagai orang yang malas bepergian jauh. Jarak dari rumah ke Werkspace yang cuma 15 menit (sudah termasuk macet dan lampu merah), adalah poin plus yang paling gede buat saya.

Tapi kan di sekitaran lokasi Werkspace sendiri ada 3 Coworking Space yang lain. Malah ada yang jaraknya lebih dekat lagi dari rumah. Lalu kenapa pilih disini?

Reason #2 : Spacious Place

Terus terang, menurut saya, ini adalah kelebihan Werkspace yang utama. Kalau dibandingkan dengan tempat Coworking lain di daerah Pluit dan sekitarnya.

Werkspace itu tempatnya lega banget!

Karena gedung Werkspace sejatinya terdiri 6 ruko 4 lantai, yang digandeng jadi satu.

Dua lantai untuk Private Office. Satu lantai untuk Coworking Area. Dan lantai yang paling atas disediakan bagi keperluan manajemen dan operasional (Ingat, Werkspace Pluit adalah HQ mereka).

Coworking Area mereka luas. Dan meja kerja yang mereka sediakan juga cukup banget untuk mengakomodasi tools yang kita perlukan buat kerja.

Dan menurut saya, sekalipun semua meja terisi penuh, tempat ini masih akan terasa lega dan nggak begitu crowded.

Reason #3 : Less Distraction Interior Concept

Kalau kita nyari Coworking Space yang keren dan Instagram-able, mungkin Werkspace nggak termasuk di urutan paling atas. Karena konsep interior Werkspace cenderung minimalist.

Pilihan furniture, dekorasi, layout dan lighting di Werkspace, dirancang supaya kita dapat bekerja dengan nyaman. Interior design mereka memang nggak nge-hip. Tapi semuanya fungsional.

Supaya kita bisa sejenak “melupakan” dekorasi di sekitar kita, dan fokus pada apa yang sedang kita kerjakan.

Reason #4 : No Fluff Business Environment

Kalau misalnya kita tour ke beberapa Coworking Space di Jakarta, kita akan melihat banyak tempat yang menyediakan lebih dari sekedar meja kerja.

Ada yang menyediakan Coffee Shop. Ada yang menyediakan Pool Table dan Fussball. Ada yang menyediakan Game Room. Bahkan ada juga yang menyediakan kursi pijat dan Sleeping Pod.

Pokoknya ya suasana ala ala Googleplex atau kantor-kantor di Silicon Valley. Semuanya demi menarik hati calon tenant.

Bagaimana dengan di Werkspace? Nope. Nothing. Nada!

Werkspace bukan tempat buat hangout. Bukan tempat buat kita main-main dan nongkrong atas nama “kerja”.

Kita datang ke Werkspace ya buat KERJA. Titik!

Kalau mau hangout, santai dan main-main, Mall Pluit Village jaraknya cuma 3 menit jalan kaki. We can always go there.

But when we are in Werkspace, we get the job done! 🙂

Wah, kalau gitu tempatnya boring dong ya?

Well, if you think being productive is boring, you should not be an entrepreneur!

Reason #5 : Friendly Payment Term

This is also BIG for me!

Sebagai tenant Werkspace, kita dapat mengikat kontrak antara 1 sampai 12 bulan. Dan terus terang, saya sendiri dapat special rate dan mengikat kontrak 12 bulan dengan mereka.

Special Rate is good, but their friendly payment term is even better!

Meskipun dengan special rate, saya mengontrak untuk 12 bulan, namun pembayarannya tetap dilakukan secara bulanan. Jadi nggak harus bayar full 12 bulan di awal loh!

Dan kalau dihitung-hitung, biaya saya untuk berkantor di Werkspace jauh, jauh lebih murah daripada biaya saya untuk “ngantor” dari Coffee Shop.

Oh, my wallet is so thankful for this! :p

Werkspace : A Perfect Place for Work?

Ya kalau dibilang Werkspace is perfect, ya nggak juga sih.

Just in case ada pihak manajemen Werkspace yang baca ini, just relax!

Karena ini bukan keluhan. Juga bukan kritik dan bukan masukan. Kalau ditanggapi ya bagus. Tapi kalau cuma mau “ditampung doang”, ya nggak apa-apa juga sih. Namanya juga opini pribadi. hehehe

Quirk #1 : Regular Business Hour

Secara resmi, Coworking Area Werkspace hanya beroperasi dari jam 8.30 pagi sampai dengan jam 5 sore. Totalnya 8,5 jam. Ya termasuk jam kerja yang standard lah ya.

(Untuk Private Office, kita punya akses 24 jam)

Tapi ini jam operasional yang nggak standard buat sebuah coworking Space. Karena banyak Coworking lain yang buka selama 12 jam. Bahkan ada yang buka sampai 14 jam sehari (baru tutup jam 9 atau jam 10 malam).

Dan di luar negeri sana, Coworking Area yang buka 24/7 termasuk normal.

Sebenarnya buat saya pribadi, ini bukan masalah besar. Karena bagi saya, pulang on-time adalah ciri karyawan produktif.

So, jam operasional Werkspace ini justru memicu saya untuk produktif. Saya “dipaksa” untuk menyelesaikan semua pekerjaan, sebelum tempat ini tutup. 🙂

Quirk #2 : No Overnight Storage

Werkspace sebenarnya menyediakan locker di area Coworking mereka. Dan boleh kita pakai secara gratis, seharian penuh.

Tapi locker ini harus dikosongkan setiap kali kita selesai kerja. Alias nggak boleh ada barang yang diinapkan Werkspace.

So, laptop dan semua peralatan kerja kita, semuanya harus kita bawa pulang lagi. Nggak boleh kita tinggal di Werkspace.

Kalau kita menyewa Private Office atau Dedicated Desk, kita dapat fasilitas mobile drawer. Yang tentunya boleh kita isi barang-barang pekerjaan kita (dan boleh ditinggal bermalam).

But if you are on Coworking Membership, you got no such privilege!

Quirk #3 : Regular Chairs

Kursi yang disediakan di Coworking Area itu biasa banget. Kursi tanpa busa, yang memang nggak bikin punggung (dan pantat) kita sakit. Tapi ya tingkat kenyamanannya juga so-so lah.

Meskipun kalau kita menyewa Private Office dan Dedicated Desk, kita akan mendapatkan kursi kantor yang empuk dan jauh lebih nyaman.

Namun ini pun bukan perkara besar.

Karena kalau kita udah mulai berasa pegal-pegal, berarti mungkin sudah waktunya kita break sebentar. Istirahat lah di sofa atau di kursi jaring yang sudah disediakan. 🙂

I know it’s not fair. Dari tadi kesannya saya mengharapkan fasilitas Private Office, tapi cuma mau bayar harga Coworking.

Berarti mungkin seharusnya saya nyewa Private Office aja sekalian ya. Hehehe

And I think, someday I will 🙂

Info lebih lanjut hubungi kemana?

Yang paling gampang, langsung aja ke website mereka di werkspace.id

Thank you udah baca posting yang lumayan panjang ini. See you on my next post!

(Itu pun kalau saya masih boleh “numpang lewat” disini lagi. Hehehe. :p)


Feel free for ask or comment y, aku/hubby akan jawab sepengetahuan kita 😊

Lanjut ke postingan part 2 y…

Cerita Ojek Online

Published March 20, 2018 by fereshia

Kejadian ini baru aku alami kemarin waktu pulang dari rumah ortu naik ojek online. Kadang kalau naik transportasi online kan suka diajak ngobrol y sama yg bawa motor or mobil. Tapi baru kali ini ngalamin obrolan yg bikin pengen ketawa terus 😆

Awal mula diajak ngobrol sama si bapak ojek online ditanya-tanya rumahnya dimana? deket sini?deket ini?masuk kesini y?bla..bla..bla..sempet ngerasa duh nih bapak detail amat tanyanya, malah bikin parno kan. Jadi cuma aku jawab sekedarnya ga detail n balik tanya bapak orang sini?

Ditengah perjalanan si bapak ada tanya n ngingetin jangan sambil main hp takut dijambret, yg untungnya memang aku bukan tipe orang main hp kalau lagi dimotor.

Menuju akhir perjalanan terjadilah percakapan ini :

bapak : masih sekolah neng?

ai : apa pak? *ga kedengeran jelas soalnya.

bapak : ooo..SMP kelas berapa neng?..

ai : oh..ga pak, saya….. *baru mau lanjut ngomong udah dipotong*

bapak : ooo..udah SMA y neng?..

ai : bukan pak. Saya udah berumah tangga pak.

bapak : oh..pernikahan dini y neng?

ai : *seketika pengen ngakak cuma ditahan*. Ga pak, bukan, saya ga nikah muda.

bapak : jadi nikah sesuai umur y…

bapak : tapi udah lulus SMA neng?

ai : udah pak.

bapak : udah lulus kuliah neng?

ai : udah pak udah selesai semua.

bapak : baguslah neng, yg penting udah lulus sekolah, lulus kuliah, kerja.

ai : iya pak *masih nahan ketawa*

bapak : zaman sekarang penting neng lulus sekolah, kuliah bla..bla..bla..

ai : iya pak.

Perjalanan hampir selesai diakhiri dengan pertanyaan udah punya anak belum lalu bapaknya mendoakan biar segera dikasih anak segera & sehat, dan diri ini mengaminkan n berterima kasih banyak pada si bapak😊

Sampai dirumah cerita ke hubby n responnya sama, ketawa-ketawa pas part ‘pernikahan dini’ 🤣

Entah karena ukuran badan, atau wajah atau hal lain yg bikin si bapak berpikir masih sekolah, ambil sisi positifnya aja berarti masih dianggap awet muda wkwkwk *digeplak reader*.

Terlepas dari itu semua, kami bukan mentertawakan si bapak y, lebih tepatnya kami ketawa karena kata-kata ‘pernikahan dini’nya itu, dimana orang-orang biasanya pakai kata ‘nikah muda’ tapi si bapak beda 😁 *eitzz jgn ada yg nyanyi y 😛.

Bapak ini orang yg baik kok, walaupun diawalnya sempet bikin parno nanyanya detail ha..ha..ha.. tapi baik banget ngingetin hal-hal yg baik, doain, mau bantu customernya, ngajak ngobrol terus (mgkn biar penumpangnya nyaman kali y). Kami doakan semoga bapak diberikan rejeki berlimpah & kesehatan selalu y 😀

Perayaan Cap Go Meh 2018

Published March 8, 2018 by fereshia

*kemarin udah ngepost koq hilang y…

Tau kan y waktu tgl 4 Maret 2018 kemarin ada perayaan Cap Go Meh di area Glodok, yg berlangsung disepanjang jalan Gajah Mada Hayam Wuruk-Harmoni lalu putar balik & direncanakan acaranya dari siang jam 1 – jam 6.

Nah pas hari Minggu kemarin memang ada rencana kerumah ortu, tapi takut ga bisa lewat jalan hayam wuruk coz dapat info katanya dari jam 10 kan tutup jalan. Berangkat sekitar jam 11 kurang eh ternyata belum tutup jalan, cuma memang agak macet karena jalanan yg disebelah kiri dekat LTC ada didirikan tenda-tenda, panggung & ada semacam kapal-kapalan gitu, lagi pada prepare buat festival cap go meh.

Pas lagi dirumah ortu, ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba nyokap ngajak nonton acara cap go meh 😆 ini tumben-tumben nih Mom mau ikutan. Terus aku tolak 😂 karena takut ada adegan tusuk-tusuk pisau n pedang gitu (apa tuh namanya tatong/tathong y *cara penulisannya ga tau yg bener gmn*, yg kerasukan terus jadi kayak punya ilmu kebal gt loh kalau ditusuk panah/pisau dll).

Ga lama Mom ngajakin lagi, y udah karena ngeliat Mom kayaknya excited banget, anaknya ngalah lah nemenin walaupun takut ha..ha..ha..

Jam 1 kurang udah ngajakin pergi saking excitednya n takut rame ga dapat spot wkwkwk.. terus kita nungguin buat nontonnya dimana? Diatas jembatan halte transjakarta Olimo! 😆

Nungguin dari jam 1 sampai jam 2 koq ga mulai-mulai kan katanya jam 1 teng mulai, sampai kira-kira jam 3 baru mulai bergerak orang-orangnya. Ternyata memang udah mulai daritadi cuma atraksinya dipanggung depan LTC itu dulu, jadi pejabat n orang penting dikasih liat dulu baru deh bergerak jalan sekitar jam 3. Dari panas, sampai mules, pegel, nungguin aja tuh diatas jembatan soalnya dapat spot bagus 😛

Selama nunggu mulai, ada kejadian anak kecil jatuh 😨 kalau kita naik jembatan halte transjakarta biasa kan ada yg dari tangga terus lurus terus menurun/miring gitu kan y yg menuju pintu masuk nunggu transjakartanya, nah dipart yg menurun itu banyak anak kecil manjat-manjat buat ambil spot nonton. Tiba-tiba kedengeran suara jatuh kenceng dr belakang, pas nengok ternyata ada anak kecil jatuh gara-gara manjat itu. Posisinya tengkurep, udah deg-deg an aja takut dia mati ditempat kan. Untungnya ini anak kecil masih sadar, cuma bagian mulutnya ada yg berdarah entah gigi/bibir. Masih untung pas jatuh ga ada transjakarta lewat ga kebayang deh 😥

Back to topic akhirnya perayaan cap go meh nya dimulai juga, aku kasih liat foto-fotonya aja y…

berbagai macam kebudayaan

berbagai macam kebudayaan

ada Puan Maharani

Abang None Jakarta

Koko Cici Jakarta

mulai gotong toapekong

Foto-fotonya hanya ada segini, part yg gotong toapekong aku ga banyak foto kecuali tiga foto yg terakhir itu yg ada keliatan sedikit dibalik dedaunan, yg banyak kabel-kabel, kebetulan itu gotong toapekongnya baru dimulai.

Kenapa ga foto? Jujur karena takut, apalagi ini baru pertama kali aku nonton kan. Soalnya dengar cerita punya cerita mungkin yg lain juga pernah dengar/tau, kalau acara kayak gini toapekongnya itu ada ‘isi’nya. Diisi oleh dewa-dewa maupun tathong *eh bener ga sih namanya, nah takutnya jadi salah or dianggep sembarangan or kl lagi apes terus ntar ada yg muncul kan repot juga, makanya diputuskan ga diabadikan cukup dilihat aja.

Selama proses gotong toapekong n tathongnya lewat, ada beberapa kali tiap ngelewatin jembatan mereka teriak-teriak ke yg diatas jembatan untuk nyuruh minggir/kepinggir jangan ditengah-tengah. Hal ini y karena kepercayaan kan toapekongnya ada isi dewanya, ibaratnya dewa mau lewat masa kita langkahin, makanya pada disuruh minggir n diomelin. Selama masih ditengah dewanya ga mau lewat jadi yg gotong toapekong bakal diem aja ditempat atau ga nari-nari ditempat. Kalau nari ditempat kan kasian yg gotong juga kan, mana berat, lama, cape belum harus muter balik. Kalau lagi apes ga nurut n tetap ga mau minggir takutnya nanti orangnya yg ga mau minggir itu ngalamin kejadian buruk. Tapi tetap aja banyak yg susah dibilangin bahkan ada ngotot-ngototan sama panitianya.

Aku ga nonton acara ini sampai selesai, jam setengah 5 udah minta pulang, cape, haus, lapar, mules ha..ha..ha..ga kuat 😂 sebenernya bawa minum, cuma kalau banyak minum takut kebelet, nyari toilet dimana dijalanan kayak gini 😆

Yg aku rasain waktu sebelum nonton itu takut ngeliat yg aneh-aneh, ternyata setelah ditonton ga ada yg menakutkan, ga ada yg ditusuk-tusuk kayak yg di Kalimantan, ada paling hanya beberapa itupun ga extreme.

Awal-awal nonton gotong toapekong tuh deg-deg an tegang, kan ibaratnya mereka semacam kesurupan gitu kan. Ga lama jadi biasa perasaannya, kalau boleh jujur jadi menarik n amaze gitu sih. Koq bisa y mereka nari-nari gitu, koq ga cape, lucu nari-nari ke kiri kekanan. Mikirnya tuh positif, oh kalau nari-nari terus ga bisa diem mungkin dewanya lagi happy banget kali y bisa tampil 😆

Setidaknya acara yg di Jakarta ga seseram yg di Kalimantan, mungkin kalau nonton yg itu aku jiper kali y 😅

Semoga yg belum pernah nonton ada gambaran y 😉